PEREKONOMIAN
INDONESIA
Masalah Pokok Perekonomian Indonesia
NAMA : VIRNA DHESTIRA PERMANA
NPM : 27212607
KELAS : 1EB21
FAK/JUR : EKONOMI / S-1 AKUNTANSI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2013
BAB IX
Masalah
Pokok Perekonomian Indonesia
Setiap
negara baik negara maju maupun negara berkembang, pasti mempunyai masalah.
Contoh salah satunya ialah masalah pokok perekonomian yang menjadi salah satu
tiang bagi suatu negara itu sendiri. Termasuk Negara Indonesia, dalam
penerapannya ada beberapa masalah pokok yang berada dalam perekonomian
indonesia, yaitu Pengangguran dan Inflasi. Jumlah pengagguran yang sampai saat
ini jumlahnya masih banyak, karena susahnya mencari pekerjaan sehingga banyak
masyarakat yang terdidik atapun yang tidak terdidik menjadi pengangguran dan
tidak heran kalau tindak kriminalitas di negara kita semakin meningkat.
Kemudian masalah inflasi, masalah ini pun ternyata berbahaya bagi negara kita
(Indonesia). Inflasi ini dikatakan berbahaya karena sangat buruk bagi
perekonomian negara. Tidak jarang pula Inflasi harus menerima tuduhan sebagai
penyebab gagalnya perekonomian suatu negara.
Indonesia saat ini menggunakan Sistem
Perekonomian Kerakyatan, jadi semua kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan
hajat hidup orang banyak diatur dan dikendalikan oleh Pemerintah. Semua hal
yang berhubungan dengan kebijakan dan kelangsungan hidup masyarakat Indonesia
diatur oleh kebijakan – kebijakan dan peraturan pemerintah. Tanda-tanda
perekonomian mulai mengalami penurunan diawali padatahun 1997 dimana pada masa
itulah terjadi krisis. Saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar
pada level 4,7 persen, sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang 7,8
persen. Kondisi keamanan yang belum kondusif juga mempengaruhi iklim investasi
di Indonesia, yang menambah kesulitan dinegeri ini.
Hal ini sangat berhubungan dengan
aktivitas kegiatan ekonomi yang berdampak pada penerimaan negara serta
pertumbuhan ekonominya. Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan
akan menjanjikan harapan bagi perbaikan kondisi ekonomi dimasa mendatang. Bagi
Indonesia, dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka harapan meningkatnya
pendapatan nasional (GNP), pendapatan persaingan kapita akan semakin meningkat,
tingkat inflasi dapat ditekan, suku bunga akan berada pada tingkat wajar dan
semakin bergairahnya modal bagi dalam negeri maupun luar negeri. Namun semua
itu bisa terwujud apabila kondisi keamanan dalam negeri benar-benar telah
kondusif. Kebijakan pemerintah saat ini didalam pemberantasan terorisme, serta
pemberantasan korupsi sangat turut membantu bagi pemulihan perekonomian.
A.Beberapa
Masalah Pokok Perekonomian Indonesia
1. Pengangguran
Pengangguran
adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang
mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Orang yang tidak sedang mencari
kerja contohnya seperti ibu rumah tangga, siswa/siswi SMP, SMA, Mahasiswa
Perguruan Tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal tidak/belum
membutuhkan pekerjaan. Meskipun pada kenyataannya, seperti negara berkembang
lainnya, penduduk denga usia di bawah 10 tahunpun telah bekerja. Sedangkan
secara umum penduduk diluar usia kerja tersebut dinamakan penduduk diluar usia
kerja (PUK), yakni bara balita dan manula. Dari PUK masih dibagi menjadi 2,
yaitu :
· Angakatan
Kerja (AK) adalah mereka yang memiliki usia kerja yang seharusnya sedang
bekerja atau sedang mencari pekerjaan.
· Bukan
Angkatan Kerja BAK adalah mereka yang secara usia berada dalam kelompok usia
kerja, namun karena keadaan dan kondisi tertentu yang membuat mereka belum
mendapat bekerja, yakni para pelajar, ibu rumah tangga, dan mereka yang
menderita cacat.
Masalah
pengangguran di Indonesia masih menjadi masalah ekonomi utama yang sampai saat
ini belum bisa diatasi. Sampai tahun 2008, tingkat pengangguran terbuka masih
berada pada kisaran 9% dari jumlah angkatan kerja berada pada kisaran 9 juta
orang. Sebagaimana kita ketahui, bahwa terjadi perubahan patern perekonomian
paska krisis dari usaha yang padat karya ke usaha yang lebih padat modal. Akibatnya
pertumbuhan tenaga kerja yang ada sejak tahun 1998 s/d 2004 terakumulasi dalam
meningkatnya angka pengangguran. Dilain sisi, pertumbuhan tingkat tenaga kerja
ini tidak diikuti dengan pertumbuhan usaha (investasi) yang dapat menyerap
keberadaannya. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia
yang pada puncaknya di tahun 2004 mencapai tingkat 10% atau sekitar 11 juta
orang. Untuk mengukur tingkat pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dar
prosentase membagi jumlah pengangguran dengan jumlah angkaran kerja.
Tingkat Pengangguran =
x
100%
a. Jenis-jenis pengangguran
· Pengangguran Friksionil, yakni
pengangguran yang terjadi karena seseorang memilih mengganggur sambil menunggu
pekerjaan yang lebih baik, yang memberikan fasilitas dan keadaan yang lebih
baik.
· Pengangguran Struktural, yakni
pengangguran yang terjadi karena seseorang diberhentikan oleh perusahaan,
karena kondisi perusahaan yang sedang mengalami kemunduran usaha, sehingga
terpaksa mengurangi tenaga kerja.
· Pengangguran teknologi, adalah
pengangguran yang terjadi karena mulai digunakannya teknologi yang menggantikan
tenaga manusia.
· Pengangguran Siklikal, yakni penganggura yang
terjadi karena terjadinya pengurangan tenaga kerja yang secara menyeluruh,
dikarenakan kemunduran dan resesi ekonomi.
· Pengangguran Musiman, yakni
pengangguran yang terjadinya dipengaruhi oleh musim. Jenis pengangguran ini
sering terjadi pada sektor pertanian.
· Pengangguran Tidak Kentara, yakni pengangguran
yang secara fisik dan sepintas tidak kelihatan, nmun secara eknomi dapat
dibuktikan bahwa seseorang tersebut sesungguhnya menganggur.
Ada
dua rasio yang berkaitan dengan pengangguran, yaitu :
·
Dependency ratio, rasio ini
menggambarkan seberapa besar beban secara ekonomi yang sebenarnya ditanggung
oleh penduduk usia kerja terhadap penduduk diluar usia kerja.
·
Tingkat partisipasi angkatan kerja,
adalah rasio yang mengukur seberapa besar dari penduduk yang berada dalam usia
kerja yang benar-benar merupakan angkatan kerja.
b. Factor-faktor
penyebab terjadinya pengangguran
·
Besarnya
Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan Kesempatan Kerja Ketidakseimbangan terjadi
apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada kesempatan kerja yang
tersedia. Kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.
·
Struktur
Lapangan Kerja Tidak Seimbang
·
Kebutuhan
jumlah,jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang, apabila
kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar daripada angkatan kerja,
pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu terjadi
kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia.
Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat
mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
·
Meningkatnya
peranan dan aspirasi Angkatan Kerja Wanita dalam seluruh struktur Angkatan
Kerja Indonesia.
·
Penyediaan
dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar daerah tidak seimbang, jumlah angkatan kerja
disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan di
daerah lainnya dapat terjadi keadaan sebaliknya. Keadaan tersebut dapat
mengakibatkan perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan
dari suatu negara ke negara lainnya.
c. Cara mengatasi
penganggguran
· Memahami dampak negatif
pengangguran, yaitu kemiskinan adalah akibat utama dari permasalahn kemiskinan.
· Mendirikan pendidikan gratis untuk
masyarakat yang kurang mampu.
· Memperbanyak lapangan pekerjaan,
baik Pemerintah maupun masyarakatnya.
· Mendirikan BLT (Balai Latihan Kerja.
· Memperbanyak bursa tenaga kerja.
· Menggalak program transmigrasi.
· Mendukung kegiatan wirusaha dan
memperbaiki mental para penganggur
2. Inflasi
Inflasi merupakan penurunan nilai
mata uang sehingga harga barang atau bahan pokok nilainya menjadi meningkat.
Contohnya harga suatu barang menjadi meningkat sehingga nilai uang yang kita
miliki menurun. Penerapannya dalam kehidupan, Misalnya tahun ini saya punya
uang Rp. 200.000,- saya dapat membeli 2kg daging sapi, Namun 5 tahun kemudian
uang Rp. 200.000,- saya hanya dapat digunakan untuk membeli 1kg daging sapi
saja. Artinya uang ini telah mengalami inflasi. Ada beberapa dampak dengan
terjadinya Inflasi yaitu:
a. Turunnya pendapatan rill bagi
masyarakat yang berpenghasilan tetap
b. Menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi
Indonesia menjadi terhambat
c. Turunnya Nilai tabungan masyarakat
d. Turunnya kekayaan masyarakat yang
berbentuk kas
a)
Macam-macam Inflasi
Berdasarkan parah tingkat inflasi
dapat dibedakan menjadi 4, yaitu :
·
Inflasi
ringan (di bawah 10% setahun)
·
Inflasi
sedang (antara 10 – 30% setahun)
·
Inflasi
berat (antara 30 – 100% setahun)
·
Hiperinflasi
(di atas 100% setahun)
b) Berdasarkan asal dari
Inflasi
· Inflasi yang berasal dari dalam
negeri (domestic inflation), yang timbul karena adanya defisit anggaran belanja
yang dibiayai dengan pencetakan uang baru, panenan gagal dsb.
·
Inflasi
yang berasal dari luar negeri (imported inflation), yang timbul karena
kenaikkan harga-harga (yaitu:inflasi) di l luar negeri atau di negara-negara
langganan berdagang kita.
c)
Berdasarkan penyebab dari Inflasi
Berdasarkan Penyebabnya inflasi
dapat digolongkan kedalam dua garis besar yaitu:
·
Demand
inflation / inflasi permintaan, Inflasi ini timbul karena permintaan masyarakat
akan berbagai macam barang terlalu kuat.
·
Cost
inflation / inflasi penawaran, Inflasi ini timbul karena kenaikan biaya
produksi atau berkur¬angnya penawaran agregatif.
Secara garis besar 3 kelompok teori
mengenai inflasi, masing-masing menyoroti aspek-aspek tertentu dari proses
inflasi, yaitu:
1. Teori Kuantitas
Teori ini menyoroti peranan dalam
proses inflasi dari:
· Jumlah uang yang beredar
· Psikologi (harapan) masyarakat
mengenai kenaikan harga-harga (expectation)
Inti dari teori ini adalah Inflasi hanya bisa terjadi jika ada penambahan volume uang yang beredar (berupa penambahan uang cartal atau penambahan uang giral). Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang.
Inti dari teori ini adalah Inflasi hanya bisa terjadi jika ada penambahan volume uang yang beredar (berupa penambahan uang cartal atau penambahan uang giral). Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang.
Terdapat 3 kemungkinan keadaan :
a. Keadaan pertama, apabila masyarakat
tidak (atau belum) mengharap¬kan harga-harga untuk naik pada bulan bulan
mendatang.
b. Keadaan Kedua adalah di mana
masyarakat atas dasar pengalaman di bulan bulan sebelumnya mulai sadar adanya
inflasi.
c. Keadaan Ketiga adalah tahap
Hiperinflasi, orang-orang sudah kehilangan kepercayaan terhadap nilai mata
uang. Keadaan ini ditandai oleh makin cepatnya peredaraan uang (velocity of
circulation yang menaik). Uang yang beredar sebesar misalnya 20% akan
mengakibatkan kenaikan harga lebih besar dari 20%.
2. Teori Keynes
Menurut teori ini, inflasi terjadi
karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Proses
inflasi menurut pandangan ini adalah proses perebutan bagian rezeki di antara
kelompok- kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar daripada
yang bisa disediakan oleh masyarakat. Proses perebutan ini diterjemahkan
menjadi keadaan di mana permintaan masyarakat akan barang-barang selalu
melebihi jumlah barang- barang yang tersedia (timbulnya inflationary gap).
3. Teori Strukturalis
Teori
mengenai inflasi yang didasarkan atas pengalaman di negara Amerika Latin. Menurut
teori ini ketegaran utama ada dua macam:
1. Ketegaran yang pertama berupa
ketidakelastisan dari penerimaan eksport., yaitu nilai ekspor yang tumbuh
secara lamban dibanding dengan pertumbuhan sektor- sektor lain.
2. Ketegaran Kedua berkaitan dengan
ketidakelastisan dari supplay atau produksi bahan makanan di dalam negeri.
Kesimpulan
dari teori strukturalis yaitu:
a. Teori ini menerangkan proses inflasi
jangka panjang di negara- negara yang sedang berkembang.
b. Jumlah uang yang beredar bertambah
secara pasif mengikuti dan menampung kenaikan harga barang-barang tersebut.
Proses inflasi tersebut dapat berlangsung terus hanya bila jumlah uang yang
beredar juga bertambah terus. Tanpa kenaikan jumlah uang, proses tersebut akan
berhenti dengan sendirinya. (juga dalam teori Keynes dan teori kuantitas).
c. Tidak jarang faktor-faktor
struktural yang dikatakan sebagai sebab musabab yang paling dasar dari proses
inflasi tersebut bukan 100% struktural. Sering dijumpai bahwa ketegaran
ketegaran tersebut disebabkan oleh kebijaksanaan harga/moneter pemerintah
sendiri.
d) Macam macam Dampak
Inflasi
Dampak
inflasi terhadap perekonomian yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada
tingkat kemakmuran masyarakat, berikut ini dampak negatif dari inflasi:
1. Terhadap distribusi pendapatan ada
pihak-pihak yang dirugikan, misalnya:
Inflasi akan merugikan bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti; pegawai negeri. Contoh, amir seorang pegawai negeri memperoleh gaji Rp. 60.000.000 setahun dan laju inflasi 10%. Bila penghasilan Amir tidak mengalami perubahan, maka ia akan mengalami penurunan pendapatan riil sebesar 10% x Rp. 60.000.000 = Rp. 6.000.000.
Inflasi akan merugikan bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti; pegawai negeri. Contoh, amir seorang pegawai negeri memperoleh gaji Rp. 60.000.000 setahun dan laju inflasi 10%. Bila penghasilan Amir tidak mengalami perubahan, maka ia akan mengalami penurunan pendapatan riil sebesar 10% x Rp. 60.000.000 = Rp. 6.000.000.
2. Dampak terhadap efisiensi,
berpengaruh pada:
a. Proses produksi dalam penggunaan
faktor produksi menjadi tidak efesien pada saat terjadi inflasi.
b. Perubahan daya beli masyarakat yang
berdampak terhadap struktur permintaan masyarakat terhadap beberapa jenis barang.
3. Dampak inflasi terhadap output
(hasil produksi)
4. Dampak inflasi terhadap pengangguran
Sumber :
e-learning.gunadarma.ac.id
http://subekti1105.blogspot.com/2012/03/13-masalah-pokok-perekonomian-indonesia.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar